Nyaman di Tengah Kota Daeng

Kemarinan gue sempat baca artikel (lupa situsnya apa), Makassar menjadi salah satu kota dengan biaya hidup paling mahal di Indonesia. Nilai Indeks Harga Konsumen (IHK) aja mencapai Rp 5.774.957 per bulan berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH) per 2012 yang dilakukan setiap lima tahun sekali oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Meskipun datanya lima tahun lalu, tapi coba deh kalian lihat kenyataan yang ada. Aspek pembangunan infrastrukturnya terbilang sangat pesat. Enggak heran kalau Kota Makassar masuk ke salah satu kota Metropolitan terbesar di Indonesia.

Banyaknya gedung kokoh nan megah, perbaikan dan pelebaran jalan, serta fasilitas umum yang mulai dibenahi membuat Kota Daeng terlihat sibuk menata diri demi mencapai visi “Makassar Menuju Kota Dunia”. Aktivitas warganya pun enggak kalah padat, apalagi pada saat office hour. Semisal gue, yang kini menyandang predikat pengacara alias pengangguran banyak acara haha. Apalagi, hampir sebulan belakangan otak gue sering ngepul karena mengejar materi dan tugas kuliah yang sedikit terlupakan. Selain itu, gue juga lagi getol merombak hampir seluruh konsep bisnis bareng lima sahabat gue yang lain. Ritual meeting dadakan jadi rutinitas baru yang kadang menjenuhkan tapi justru paling dirindukan. Biasanya untuk membahas satu hal aja bisa memakan waktu hampir 30 menit lebih haha. Syukurnya, pada penghujung minggu ketiga Januari 2017 gue bisa sedikit bernafas lega. Sahabat gue Teti (personel cabelita yang udah dua kali muncul di ketikan naskah blog gue -.-) berinisiatif ngejakin gue, Helni, dan Fera (dua personel cabelita lainnya) buat nginap di hotel. Yeay! Of course gue mau dong ya. Ritual nginap di hotel saat akhir pekan emang mulai jarang kami lakukan sekitar lima atau enam bulan belakangan. Terakhir, malah cuma gue sama Teti yang fix nginap di salah satu hotel bilangan Jalan Hasanuddin. Sekarang, kami berempat udah sepakat siapa yang terakhir datang check in, dialah yang jadi pemasok cemilan di kamar.

Berhubung gue anaknya ojekable, jadilah gue pesan Go-Jek menuju kawasan Mappanyuki. Gue berhenti di salah satu hotel yang resmi beroperasi pada akhir Juli 2016 lalu. Yup! Melia Makassar menjadi hotel incaran kami menghabiskan satnight. Kedatangan gue sore itu lebih cepat dibanding ketiga sohib gue yang lainnya, alhasil gue memutuskan untuk menunggu mereka di lobby hotel. Meskipun ukuran lobbynya tidak terlalu besar, tetapi terlihat luas karena dinding kaca transparan yang seolah-olah membuat ruangan tersebut tanpa sekat dengan kondisi luar. Ditambah tata letak pelbagai jenis sofa yang sesuai dengan ukurannya, menimbulkan kesan lapang. Selang lima menit, Teti muncul dari balik taksi sedan berwarna biru disusul Fera yang datang beberapa menit kemudian. Tanpa menunggu lama, kami pun memutuskan untuk check in dan naik ke lantai 10. Sangat disayangkan, hotel ini hanya memiliki fasilitas dua lift untuk mengangkut tamu dan barang bawaannya. Kebayang dong berapa menit kami menunggu untuk berhasil menaiki lift dan bersaing dengan tamu-tamu lainnya. Apalagi, saat itu gue lihat banyak event yang diselenggarakan di hotel berbintang empat ini, otomatis jumlah pengguna lift ikut bertambah.

Well, perjuangan kami terbayar saat sampai di kamar. Jari-jari kami berebut mengambil snack yang tersedia di mini bar (kata mba receptionist, mini barnya gratis haha). Maklum, dari sejumlah hotel yang kami datangi hanya hotel ini yang menawarkan free mini bar. Sambil menguyah cokelat, barulah gue telaah isi kamar satu per satu. Ketika masuk tadi, gue langsung diperhadapkan dengan lemari pakaian di sisi kanan dan kamar mandi berdinding kaca di sisi kiri. Kamar mandinya cukup luas dengan sekat berlapis kaca yang memisahkan antara shower room dan toiletnya. Isinya lumayan lengkap, dari mulai shampoo, hair conditioner, soap, tooth brush, perlengkapan jahit yang serba mini, body milk, sampai hair dryer. Sementara, untuk lemari pakaian sudah tersedia beberapa jenis gantungan pakaian yang menurut gue cukup banget untuk kami berempat. Nah, kamarnya sendiri terdiri atas twin bed berukuran pada umumnya, satu LCD TV (gue enggak ngitungin berapa inch), satu mini bar, satu brankas, satu sofa, dan satu meja kerja yang cozy banget. Sedangkan untuk pemandangannya sendiri, kami mendapatkan city view dengan deretan rumah warga sekitar kawasan tersebut dan sejumlah office building.

img20170122101434
Mirror mirror on the wall in the bathroom

Nyaman ngulet di kasur, bikin gue mager dan lupa diri kalau gue masih berada di kota Makassar. Menuju petang, kami memutuskan ke The Society, Rooftop Bar, and Lounge yang berada di lantai 20 untuk makan malam. Tapi, kami kudu gigit jari pas lihat banyak tamu yang memilih duduk cantik di bagian outdoornya. Gue jadi ingat kalau ada Merkado Restaurant di lantai 6 yang menawarkan view serupa. Kami pun turun penuh harap mendapatkan tempat yang kami inginkan. Lagi-lagi impian kami terkikis haha, bagian outdoor restaurant itu sudah di booking untuk perayaan ulang tahun (tabah, sob!). Karena pesta ulang tahunnya baru mulai selepas maghrib, kami pun diperbolehkan untuk duduk di sofa panjang berwarna abu-abu tua di pojokkan.  Kekecewaan kami bertambah saat pramusajinya datang menawarkan menu. Khusus hari itu, semua menu dimasukkan dalam kategori package bukan ala carte (yaa ampun, Gusti…). Cacing-cacing dalam perut kami langsung berontak, sambil menunggu minum yang kami pesan, lagi-lagi gue mengandalkan layanan pesan antar. Menu yang kami pilih ketika itu adalah sate taichan yang lagi ngehits hoho.

17-01-21-19-31-03-682_deco
Senyum sumringah pengisis sofa posisi pojokan di Merkado Restaurant

Puas minum dan foto-foto, gue beranjak ke lobby untuk menemui pujaan hati (re: mas pembawa sate taichan). Sampai di kamar, harumnya bumbu kacang berpadu dengan olahan jeruk nipis bikin gue pengen buru-buru coba jenis sate yang tengah digandrungi masyarakat itu. Dagingnya empuk, bumbu kacangnya juga halus dan berwarna orange kemerahan berbeda dengan bumbu kacang kecokelatan khas sate Madura. Kalau pesan, kalian bisa pilih bertemankan nasi putih atau lontong sebagai sumber karbohidrat. Meskipun enaknya bikin nagih, kami hanya cukupkan satu ronde saja untuk melahap habis sate taichan berbungkuskan sterofoam itu. Sesekali kami karokean berbekal Youtube menghabiskan malam minggu yang tergolong suram haha. Hampir jam sembilan malam, ceu Helni datang membawa sekotak martabak dan terang bulan cokelat kacang (kenapa musti KACANG?!!). Ya, doi menepati janji sekaligus membayar denda karena datang terlambat.

Keesokannya, kebiasaan gue nonton berita pagi kebawa di hotel (maafkan saya teman-teman). Teti, Fera, dan Helni yang masih merem cantik, terpaksa melek karena volume televisi yang gue gedein akibat berita soal Donald Trump. Pagi kami lumayan berkualitas ngebahas soal politik dan ketahanan negara (berat pembahasan, sob). Lebih berbobot lagi ketika kami diskusi soal siapa diantara kami berempat yang berhak breakfast di lantai 6, secara hotel cuma menanggung dua orang per satu kamar hotel saja. Akhirnya, gue sama Teti diizinkan mencicipi varian sarapan sehat sambil menikmati pemandangan Minggu pagi yang menyejukkan mata. Selesai sarapan, mandi, dan packing kami menjajal fasilitas swimming pool yang berada di lantai 5. Bukan untuk berenang, tapi demi menyalurkan hasrat hobi yang doyan berfoto ria. Keluar dari lift, gue bisa lihat secara jelas pool yang tersedia. Tapi, sebelum memasuki pintu masuk area kolam, gue juga ngelirik ada bagian khusus gym di sudut kiri. Pemandangan yang disajikan berupa city view hampir sama dengan zona swimming pool yang ukurannya jauh lebih luas dibanding tempat gym. Meskipun hanya dua hari di Melia Hotel, agaknya kerasan dan nyaman nginap di tengah hiruk pikuk kota Daeng.

unnamed
Swimming poolnya cukup jadi latar belakang 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s