Kenapa Raya?

IMG20161125173222

“Raya? Yang mana?”

“Raya? Mita kali ah maksudnya?”

 

Mayoritas temen lama gue selalu dihadapkan dengan jenis pertanyaan seperti di atas. Mereka terkadang bingung antara Raya atau Mita padahal kedua nama tersebut berada pada satu raga yang sama. Kenapa Raya?

 

Semua berawal pada 2012, kala itu gue berprofesi sebagai Produser Acara di salah satu radio jaringan swasta cabang Makassar (duileeeeh cabang, hha). Selain itu, gue juga merangkap penyiar pengganti dengan nama siaran Farah Mita. Setahun berselang, gue resign dan memilih fokus pada bidang pendidikan demi mendapatkan beasiswa dan menjajal bisnis fashion. Ternyata, menaklukan keduanya butuh perjuangan ekstra. Mimpi bisa mencicipi kuliah di luar negeri pun kandas, anggap aja gue masuk dalam kategori “nyaris lolos”. Ya! Karena pada tahap wawancara akhir gue gagal. Setelahnya, gue kembali berkutat dengan lingkungan jual-beli, packing orderan, dan membalas setiap pesan para pelanggan. Bukan cuma itu, gue juga “pulang” ke dunia broadcasting di salah satu radio swasta bilangan Jalan Ali Malaka. Dari sanalah asal muasal nama ganti nama.

Jadwal siaran gue terbilang lenggang, hanya dua jam per hari setiap Senin hingga Jumat. Tentunya, masih mengenakan “seragam” yang sama di udara, yaitu Farah Mita. Dua minggu berselang, beberapa pendengar mulai “ngeh” dengan suara wanita yang mereka dengar.

 

“Mirip suaranya Farah Mita yang di Radio X?”

“Ini yang siaran mantan penyiarnya Radio X bukan sih?”

“Kok namanya mirip banget sama yang dulu siaran di Radio X ya?”

 

Serupa tapi tak sama, begitulah pertanyaan mereka yang kerap muncul ke kotak pesan masuk. Bangga juga sih seenggaknya mereka masih inget vokal gue yang tidak berciri khusus sama sekali. Namun, mereka juga “berhasil” membuat gue resah. Kenyamanan sekaligus kecemasan itu pudar saat gue menerima pekerjaan baru selaku Asisten HRD di salah satu perusahaan swasta ternama. Tiga bulan saja, gue “menyatu” dengan aktifitas itu. Jika kebanyakan muda-mudi memilih berkarir dengan “nyaman” dengan menyandang status karyawan, gue justru merasa saraf motorik gue mati rasa. Absen, duduk, istirahat, pulang, dan meeting sekali seminggu secara berulang. Beruntung, dua hari berpredikat “pengangguran”, gue hadir di radio berbeda. Identitas “Raya” dengan sadar saya lontarkan di balik frekuensi itu. Kenapa Raya?

 

“Raya artinya besar. Yaa… harapannya agak muluk bisa menjadi orang “besar”.”

“Raya diambil dari kalimat PaRAmita MaYa Dewi.”

“Raya bisa digunakan sebagai nama laki-laki atau perempuan, filosofinya semacam “act like a lady, think like a man”. “

 

Label “Raya” pun terbiasa gue bawa entah berkenalan dengan orang baru, maupun dengan awak media. Jadi, terbiasalah dengan brand “Raya”, empat huruf itu sama sekali tidak mengubah secuilpun sisi pribadi “Mita”. Kenapa Raya? Karena gue suka.

Advertisements

One thought on “Kenapa Raya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s