Penghujung Bulan

“Agustus, terima kasih untuk semua hal”.

 

Hari ini 31 Agustus, besok 1 September dan Idul Adha. Rasanya, saya perlu mengucapkan terima kasih pada bulan delapan tahun ini. Keluh kesah yang mengajarkan saya bijaksana pada umur yang telah melewati seperempat abad. Saya ingin merunut beberapa kejadian yang lantas membuat saya berubah sikap, semisal:

Belajar Sabar

 

Ini sulit! Sama seperti judul, sampai detik ini saya masih belajar bersabar untuk segala hal. Mulai dari menghadapi persoalan akademik, judgmental para netizen (sok ngartisnya hambamu ini ya Allah :’)), gerakan finansial yang dinamis, dan masalah kesehatan.

 

30-Gambar-DP-BBM-Sabar-Menghadapi-Cobaan-7
photo credit: http://www.berbagaigadget.com

Belajar Dewasa

Saya bungsu, wajar kalau banyak yang mengira saya manja. Karena, beberapa pihak mencoba mengeneralisasikan sifat itu pada si bontot. Padahal, yaa enggak semuanya begitu. Semisal, saya! Bagaimana struggle-nya saya waktu kali pertama pindah ke Makassar yang jauh dari keluarga. Lalu, beradaptasi dengan lingkungan dan mempelajari tatanan bahasa di kota ini. Pun, saya pernah dicemooh ketika ucapan saya yang berlogat Ibukota dianggap sok ke-Jekardah-an. Enggak marah sih, karena menurut saya itu cara mereka merespon pihak di luar lingkupnya. Toh, hal yang sama juga dialami oleh sebagian orang dengan domisili berbeda yang kemudian bertransmigrasi ke kota lain. Bukan cuma itu, saya juga belajar mengurus keperluan sendiri. Mulai dari urusan masuk universitas, beli kebutuhan rumah tangga, dll.

Lantas, apa saya sudah dewasa? Belum lah! Sifat saya masih kekanakan. Saya masih sering marah untuk perkara sepeleh. pola berpikir dan cara saya menyelesaikan beberapa polemik hidup masih jauh dari dewasa. Belum lagi imageheartless” yang melekat di diri saya. Kalau diingat lagi, umur segini kok kelakuan masih begitu? Sebab, selama kamu hidup selama itu juga kamu belajar.

Belajar Hemat

Saya speechless kalau membahas pengeluaran. Pernah saya ditanya orang tua, “tabungan kamu ada?”. Padahal, siang itu matahari lagi panas-panasnya, tapi saya berasa ada petir disertai gemuruh dan hujan deras.

“Ada, tapi sedikit,” gumam saya dalam hati.

Saya bingung jawabnya. Terlebih, fakta nota belanja yang pernah saya bahas di tulisan sebelumnya bisa mencerminkan seboros itulah saya. Serta, segampang inilah saya menghabiskan uang tanpa pernah berpikir panjang. Suka enggak suka, saya harus hemat demi kemerdekaan finansial. Oiya, hemat bukan berarti “memiskinkan” diri. Tapi, menyeleksi kelayakan barang tersebut untuk dibeli. Kalau enggak layak dan enggak butuh, lebih baik luruskan niat supaya tahan godaan. Tapi, kalau saya butuh meskipun masuk kategori sekunder atau tersier biasanya saya pilih yang harganya paling murah atau ada potongan harga. Jangan lupa juga untuk sedekah, ini versi hemat untuk akhirat.

 

menabung-1000x618
photo credit: http://www.beliasuransi.com

Belajar Bersyukur

Oh… 26 saya dilimpahi banyak rezeki seperti materi dan perbaikan diri. Mulai dari teman yang melimpah sampai kerjaan yang tumpah ruah. Dari sakit yang saya derita hingga nikmat sehat yang berkah. Kalaupun saya mengeluh, enggak papa karena saya butuh tempat mengadu. Karena setelah ngeluh, saya jadi tahu kalah jauh di sudut belahan dunia – entah dimana – ada orang yang lebih terpuruk dari kondisi ini. Ujung-ujungnya, saya malah bersyukur sendiri pernah melangkah sampai disini.

 

IMG20170814200313
kenapa 73? karena HUT RI Indonesia sudah mena

 

 

IMG20170814200733
terima kasih untuk semuanya dan segala hal, Agustus!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s