Media Sosial dan Segala Keresahannya

“Bajunya bagus-bagus banget, wajar sih secara barang endorse semua”.

“Kenapa sih nih anak jadi sok bijak banget isi tweetnya?”

Facebook, Twitter, Tumblr, Path, Instagram, dan Snapchat adalah beberapa jenis media sosial yang saya gunakan. Saya lupa kapan tepatnya mulai menjelajah di dunia maya, kalau enggak salah ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya, tugas sekolah memperkenalkan saya dengan Google. Lalu, mulailah saya penasaran dengan beberapa game online, salah satunya Ragnarok. Muncullah, Friendster yang membuat saya semakin kecanduan duduk berlama-lama di depan layar komputer.

Jaman berubah, kebutuhan primer manusia kini (seolah, red) bertambah. Gadget seolah menjadi pengganti papan dan sandang, dimana rumah kita adalah profile yang feednya dapat diatur sesuai keinginan sendiri. Sementara sandangnya, berupa balutan foto maupun video yang nampak mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya di dunia nyata. Lalu, jaringan internet seakan-akan pangan dimana tidak satupun dari kita bisa beraktifitas atau sekedar menyapa tetangga ketika kehabisan kouta. Sungguh, miris realita dunia.

Sayapun demikian, menjadikan gadget dan jaringan internet pada posisi prioritas. Tanpa mereka, kehidupan saya buta. Sampai suatu ketika saya mempelajari salah satu buku yang menunjang tugas akhir kuliah saya, The Strategy Process Concepts Contexts Cases. Tidak ada yang salah dari buku itu, tapi jujur saya merasa bodoh setelah membacanya. Buku berbahasa Inggris itu sukses membuat saya betah mempelajari setiap kosakata yang ada. Saya merasa, semakin sering jemari saya menekan tombol papan keyboard pada smartphone, semakin malas pula saya melirik lembar demi lembar kertas pada buku itu. Pernah mengalami hal seperti ini?

Media sosial menjadi candu. Bagi beberapa orang, media sosial adalah ajang me-merdeka-kan diri. Mereka bebas berekspresi, mengeksplorasi bakat dan jati diri, serta ladang informasi. Sebagiannya lagi justru mengalami luapan emosi, tidak sedikit yang terintimidasi atau terhakimi. Percayalah, kini masyarakat lebih menginginkan jumlah followers yang banyak daripada jumlah sahabat yang setia. Masyarakat lebih membutuhkan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan like dari netizen dibanding canda tawa selepas pulang kerja. Masyarakat lebih mengandalkan mesin pencari untuk mengakumulasi data dan sejarah.

Saya akui, saya juga pernah segirang itu ketika sejumlah foto saya mendapatkan respon yang bagus dari followers yang di dalamnya terdapat beberapa sahabat, teman, dan kolega kerja. Sampai suatu ketika, saya mendapat Direct Message (DM) yang cukup meresahkan di salah satu akun media sosial saya. Saya hanya membacanya, hingga dua hari kemudian DM kembali datang dari pengirim yang sama. Sekali, dua kali, sampai berkali-kali. Saya lumayan terganggu. Saya bukan tipekal orang yang mudah membuka diri di dunia maya. Bukan pula jenis manusia yang dengan cepat menanggapi pertanyaan-pertanyaan atau sekedar memberikan statement kepada pihak yang saya tidak kenal dan tidak pernah bertatap muka. Untuk apa? Buang-buang waktu menurut saya. Kecuali, orang tersebut pernah saya temui langsung meskipun hanya satu kali. Atau, orang itu adalah teman dari teman saya. Atau juga, masing-masing dari kami memiliki kepentingan semacam simbiosis mutualisme.

Keputusan saya hari itu bulat, menonaktifkan akun media sosial tersebut untuk menghindari kawanan manusia yang tetiba muncul di DM dengan nama akun yang berbeda. Sekitar tiga hari semenjak akun media sosial saya di nonaktifkan, saya mendapat kabar jika akun saya bisa ditemukan. Lho? Seharusnya, akun yang telah di nonaktifkan tidak dapat dicari di mesin pencari media sosial tersebut. Buru-buru saya memasukkan username dan password pada media sosial tersebut, tetapi gagal. Yup! Saya di hack. Kemarahan saya memuncak. Sebegitukah orang membenci saya? Apa karena permasalahan DM yang tidak sekalipun saya balas? Bukannya itu hak orang ya? Butuh waktu untuk mengembalikan akun media sosial saya. Jumlah foto dan followers saya berkurang. Waktu itu, hanya tersisa 20 dari 102 foto.

Setelah kasus itu, saya masih mendapati DM yang kurang berkenaan. Sebagian isinya menjudge gaya hidup saya dan mengomentari setiap hal yang saya rekam pada stories yang saya buat. Sungguh, beginikah kelakuan netizen sekarang yang dengan sukses mencibir perilaku dan latar belakang kehidupan seseorang hanya dari foto maupun video yang mereka lihat di dunia maya. Saya sangat berterima kasih kepada Instagram karena memiliki fitur turn off commenting, yang membebaskan saya dari kata-kata nyinyir penuh ghibah.

Saya khawatir, dimasa mendatang seseorang merasa dikucilkan hanya karena status yang mereka tulis semisal kasus Afi Nihaya yang dipuji sekaligus dibully? Atau seseorang merasa takut untuk sekedar mengabadikan moment dan mengunggahnya di media sosial untuk berbagi kebahagian karena banyaknya oknum yang tidak bertanggung jawab menggunakan foto tersebut untuk hal-hal tidak berperikemanusian. Contohnya, Nafa Urbach yang kemudian mendapati komentar tidak mengenakan pada foto anak gadisnya yang menjadi incaran Paedofil. Masih banyak kasus serupa yang menambah resah pengguna media sosial.

Saya rasa netizen sendiri yang harus cerdas dan berperan bijak. Mengembalikan media sosial kembali menjadi wadah yang bermanfaat. Berhenti melakukan berbagai hal yang tidak jelas juntrungan. Menjauhi berselancar menghabiskan paket data pada dunia maya lalu berakhir dengan mengasihani diri dan iri. Sebab, diluar sana banyak sekali orang yang mampu menaklukan media sosial menjadi ladang meraih rezeki. Semisal para selebgram dan selebtweet, dulu mereka mungkin manusia biasa. Kini, setiap foto atau cuitan menjadi rupiah dan menjadi idola bagi para pengikutnya. Selebrita tanah airpun tidak mau kalah, mereka berlomba-lomba memanfaatkan media sosial menjadi “media” kepada sosial seutuhnya. Tidak hanya itu, berkat internet dan media sosial berbagai pekerjaan baru bermunculan semisal blogger, vlogger, buzzer, dll. Jadilah pengguna yang media sosial yang menghargai keberadaannya.

 

 

IMG_7141
Salah satu manfaat medsos, menjadi bahan referensi untuk tugas

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s