Do Your Passion

“Emang masa depannya gimana kalau kerja disana?”

“Enggak niat cari kerjaan lain?”

Udah berapa lama yaa saya gag ngeblog? Beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan urusan perkuliahan yang lumayan drama. Riweuh urus ini-itu, termasuk kerjaan yang (Alhamdulillah) nambah hihi. Tapi, sebanyak apapun pekerjaan saya, hari tetap hanya memberikan waktunya selama 24 jam. Alhasil, jam tidur saya berkurang dan pola hidup lumayan hancur. Selarut apapun saya tidur, saya selalu bangun tepat pukul 05.00 Wita. Mau tidur lagi? Susah! Breakfast pun lebih rutin menyeduh kopi daripada makan nasi, sementara makan siang saya tanpa serat, berlanjut dengan makan malam bersama micin dan sejenisnya. Rasa-rasanya ingin ngeluh, atau berhenti sama sekali. Tapi, kadang ngerasa kok gag ada syukurnya yaa? Haha.

Terlebih, rasa “gag pernah bersyukur” ini sering kali menghampiri saya beberapa minggu belakangan. Pasca selesai study, mulai banyak pertanyaan seputar, “rencana kerja apa nanti?” atau “sekarang sibuk apa?”. Nah! Nampak emosional lah saya kalau bertemu dengan pihak-pihak yang bertanya demikian haha. Sebenarnya sih, emosinya bisa teramat sangat dikontrol kalau pihak penanya sedikit tidak terlalu mendominasi percakapan dengan perbedaan perspektif dan “mengharuskan” saya mengiyakan atau menyetujui statement yang diluar cara berpikir saya. Tapi, kemarin nih saya bertemu teman lama saya di salah satu kedai kopi bilangan Hertasning. Namanya Aldy, kami satu almamater tapi beda jurusan. Kebetulan, selama hampir dua pekan dia datang ke Makassar. Pulang kampung sih lebih tepatnya, karena ia tengah menempuh sekolah pascasarjana di Turki. Perbincangan kami lumayan seru, salah satunya membahas pekerjaan. Menariknya, saya dan Aldy sama-sama sepakat bahwa pekerjaan adalah suatu hal yang dilakukan sesuai dengan batas kemampuan tiap individu.

Yup! Bagi sebagian pihak, pekerjaan menjadi salah satu parameter untuk mengetahui tingkatan sosial seseorang. Sebab itu, ada orang yang mati-matian mencari pekerjaan demi melanjutkan hidup. Ada pula yang lebih baik hidup sesuai dengan passionnya. Bahkan, tidak sedikit yang sukses mempertahankan passionnya dan menikmati hidup dengan cara yang sangat baik. Ketiganya punya proses yang berbeda. Saya pernah berada di posisi pertama, “mencari pekerjaan demi melanjutkan hidup”. Rasanya? Khawatir! Haha. Kalau ke kantor selalu cemas, takut, gelisah, dan ingin segera resign. Saya pribadi tidak terlalu menyukai pekerjaan itu, mulai dari jobdesk yang monoton, meja kerja yang teramat rapih, dan kewajiban mengenakan pakaian kerja formal. Sungguh, kondisi itu hanya bertahan lebih dari dua bulan saja haha. Selebihnya, hari-hari saya dipenuhi dengan menjajal peruntungan diperusahaan media. Pun sampai sekarang.

 

jilbab21
2012. Ketika masih sibuk jadi produser 😀

 

199
2015. Jaman masih trial error nya produksi sampe rela begadangan di studio jahit

 

IMG_0658
2015. Tim divestainment kesayangan aqoh sampe sekarang :*

 

PicsArt_02-13-12.33.00
2016. Iya! Ini kondisi dimana gue sama Zizi tim Divestainment juga rela lintas desa demi projectan

 

IMG_9465
2016. Yang paling susah dilupain, kaka-kaka baik di Harian Fajar

 

IMG-20170802-WA0016
2017. Bagian terBAIK di kampus

Sampai suatu ketika saya mendapati pertanyaan, “mau sampai kapan kerja disana?”. Jawabannya, sampai media berhenti bekerja. Bagi saya, media bukan sekedar ladang mencari pendapatan. Lebih dari itu, media seperti wadah untuk ide-ide gila saya. Semacam hobi yang kemudian diapresiasi dalam bentuk pundi-pundi. Meskipun enggak bisa sepenuhnya lepas dari deadline, tapi saya menikmati jam demi jam menatapi layar komputer mencari informasi musik terbaru sebagai referensi siaran. Atau, membaca artikel per artikel untuk bahan konten tulisan saya. Yaa… begitulah cara saya atau (mungkin) beberapa orang media bekerja. Dan, begitu juga cara saya mencintai pekerjaan saya. Sering saya mendapati sejumlah teman yang berkata, “gimana enggak bosan kalau yang dikerjakan tiap hari sama semua?”. Intinya sih kalau dasarnya udah suka sama pekerjaan yang dimiliki sekarang, pasti intensitas ngeluhnya juga akan berkurang. Apalagi, kalau pekerjaan yang digeluti sesuai dengan passionnya.

 

Saya juga enggak menampik kalau saya masih suka coba sana-sini yang terkait dengan media, bidang kreatif, bahkan dunia akademisi. Makanya, jobside saya lumayan banyak. Capek? Banget! Mana ada sih pekerjaan yang enggak bikin capek? Cuma, kembali lagi sama tujuan saya bekerja, untuk apa dan siapa. Alhamdulillah, semua yang saya lakukan adalah hal yang saya suka. Kalau kamu, kerja untuk apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s