Ibu, Kota!

“Seandainya saya memilih menetap disini selamanya. Mungkin saya tidak akan pernah menjadi pribadi yang sekarang. Atau, bisa jadi saya lebih dari ini.”

 

 

A

 

Oktober dan November menjadi bulan yang penuh pertimbangan. Usai menyelesaikan masa study, saya kerap izin mangkir di kantor untuk sejenak menengok kota kelahiran. Selain karena urusan masa depan, saya juga rindu tempat ini. Sayangnya, 2012 lalu kami tidak lagi mendiami rumah di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Padahal, 16 tahun kehidupan saya membekas disana. Jalanan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan saja, parit yang tidak terlalu lebar, rumah penduduk yang berdekatan tanpa celah, seperti kawasan gang kecil pada umumnya. Berbeda, selepas menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno-Hatta saya melipir ke bilangan Cempaka Putih. Yup! Disinilah saya pindah dan menghabiskan lelah. Hanya ada security perumahan yang menyambut hangat kedatangan saya setelah satu tahun terakhir tak pulang. Wajahnya masih sama, penuh senyuman hangat. Sementara, rambut ubannya nampak tambah lebat.

 

B

Apa yang paling saya rindukan dari Jakarta? Keluarga! Saya rindu terlelap di kamar lantai dua seorang diri dengan segala kejadian horror yang acap kali terjadi. Saya rindu berangkat pagi sekali ke sekolah bersama kedua kakak saya, sembari sarapan, dan mendengarkan kaset dalam mobil. Saya rindu pulang sekolah bersama teman-teman saya, menaiki metromini berkawankan polusi sore hari. Saya rindu pada akhir pekan dimana seluruh keluarga besar berkumpul untuk sekedar bersilahturahmi atau arisan.

 

08122007319-kecil-001
 Sepupu dan maaf dulu saya alay!

Apa yang paling saya rindukan dari Jakarta? Teman lama! Saya rindu dengan masa Sekolah Dasar (SD). Biasanya, selepas maghrib dua teman laki-laki saya datang ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Pagi harinya, dua rekan perempuan saya datang menjemput untuk pergi ke sekolah bersama. Saya rindu dengan masa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Masa yang membuat saya seringkali dipilih menjadi Sekretaris dan notulen di kelas. Masa yang mempertemukan saya dengan beberapa teman dari lingkungan berbeda. Masa yang membuat saya rutin mengisi sore dengan bimbingan belajar dan les Bahasa Inggris. Masa yang memperkenalkan saya dengan ekskul Majalah Dinding (Mading), tapi di akhir tahun saya menduakannya dengan kegiatan basket. Masa terbodoh untuk urusan jatuh cinta karena pernah membeli foto salah seorang kakak kelas seharga Rp 50.000,-. Maklum, jaman dulu enggak semudah sekarang mendapatkan foto gebetan hahaha. Bisa lah kalian ngebayangin uang sebanyak itu keluar dari dompet seorang siswa kelas 2 SMP hanya demi selembar foto yang kini entah foto itu tersimpan dimana.

Apa yang paling saya rindukan dari Jakarta? Masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Pernah enggak kalian mengharapkan masuk di sekolah swasta yang berkualitas, tapi justru malah terdaftar di sekolah swasta yang berada satu grade dibawah sekolah yang kalian inginkan?  Saya pernah! Hahahaha. Waktu itu, nama saya masuk sebagai siswi cadangan di sekolah negeri yang letaknya sangat jauh dari rumah. Sebagai makhluk pecinta jalan, saya sih enggak ada masalah, beda dengan orang tua. Saya ingat, dua hari sebelum pendaftaran sekolah tutup, kami mengelilingi sekolah swasta yang berada di kawasan Tebet. Mama saya orangnya parnoan kalau anaknya tidak dapat sekolah dengan layak. “Minimal kamu dapat sekolah dulu. Kalau kamu berharap SMA Negeri, susah! Kamu masuk daftar cadangan soalnya,” kata Mama usai mengambil formulir di sekolah swasta. Jadilah, hari-hari saya dihabiskan di sekolah itu. Sekolahnya luas karena menampung siswa mulai dari SMP – SMK – STM – SMA. Gedungnya seperti peninggalan khas Belanda. Pada hari pertama masa OSPEK, saya pingsan hahahaha. Syukurnya, saya dipapah ketua OSIS yang teramat tampan. Semenjak itu, saya jadi ridho sekolah disana hahaha.

 

0403200806002
XI IPA 1

 

cIzZ . . cIzZ . . tYuZz1095
Rama – Riris – Saya

 

'¤look maii face¤'3419
Karina – Sita – Saya – Olip. Maapin kalau alay (lagi!)

 

3141_1078795783377_1630764471_166922_5908120_n
l o p e

 

Kalau dulu saya anaknya rutin diantar ke sekolah, semenjak SMA hanya sesekali saja. Saya suka berdesakan dengan siswa lain dan pekerja kantoran dalam metromini. Saya juga suka mendengarkan keluhan para pengamen dalam bus, jika tak seorang pun yang memberinya uang. Masa SMA mengajarkan saya untuk berani mengeliling Ibukota dengan kendaraan umum. Dulu, sekolah kami telah menerapkan masa aktif belajar pada Senin hingga Jumat. Sehingga, Sabtu dijadwalkan kegiatan ektrakurikuler yang akan selesai pukul 10.00 Wita. Setelahnya, saya dan beberapa teman saya memilih untuk jalan-jalan. Sesekali kami ke pusat perbelanjaan, kadang  ke kwitang mencari buku bekas untuk tugas sekolah, atau bertandang ke rumah salah seorang teman. Masa SMA membuat saya aktif berorganisasi, mulai dari menjadi Asisten Laboratorium Kimia dengan empat siswa lainnya, pengurus Mading (lagi), menjadi tim Paskibraka, dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sayangnya, belum sampai dua bulan menjabat sebagai Direktur Majalah di sekolah dan memenuhi tanggung jawab sebagai pengurus OSIS, saya harus pindah ke Makassar. Kota asing, dimana tidak ada seorang pun keluarga yang berasal dari sana. Sejujurnya, saya tidak terlalu berkenaan dengan keputusan itu. Masa SMA saya hampir sempurna disini. Tetapi, saya harus ikut orang tua. Toh, tidak ada salahnya menjadi siswa pindahan di kota yang pernah saya injakkan dua kali ketika saya menuju Palopo semasa kecil.

 

¤bEgaJUlan q_ta¤(504)-001
Iya! Jaman sekolah kalau pulang emang suka kelayapan nunggu jam bimbel mulai hahaha

 

DSC02002
Sama Olip

 

DSC02240s
Siska – Saya – Karina – Zenike

 

g'
Jaman kelar ekskul pasti begini

 

herrlich ..(243)-001
Sama Lulu. Ini dua hari sebelum saya pindah ke Makassar

 

DSC02176
Olip – Lulu – Tari – Saya

 

DSC00837
Karina. Sahabat dari SMA kelas 1 sampe 2, duduknya sama dia mulu. Btw, ini baju kudu dipake waktu LDK.

Apa yang paling saya rindukan dari Jakarta? Semuanya! Jakarta mengajarkan saya banyak hal dan Makassar mendidik saya memahami segalanya. Ibu, Kota! Entah, Bu. Saya akan memilih berdomisili dimana nantinya.

 

O

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s