Kali Kedua. Sama Saja!

“Kok cuma difoto? Gag mau masuk?”

“Gag ah, kan tadi udah makan di café depan”

“Lain kali kalau kesini, kita makan disini aja. Aku juga belum pernah nyoba”

Menunggu memang hal yang paling membosankan. Saking jenuhnya, saya memilih melipir mengelilingi Pasar Festival yang lokasinya berada sekitar 700 meter dari kantor D. Iya! Sejauh itu saya lalui dengan berjalan kaki diiringi lagu One Last Cry versi Marina Elali yang terulang berkali-kali. Perut saya berbunyi keras, mungkin sudah sampai level maksimal. Sedari pagi keluar rumah sekitar jam 06.30 WIB, hanya roti berlapis keju ditambah empat potong Oreo yang saya sulap menjadi sarapan. Wajar kalau pukul 15.20 WIB, lambung saya rindu dengan gerakan peristaltik yang seharusnya dilakukan pada saat makan siang. Berhubung King Chicken Fillet tengah diskon hahahaha (anaknya cinta diskonan dan potongan harga), saya merapat ke Burger King. Polosnya, saya pesan dua burger dan satu kentang goreng berukuran jumbo. Gigitan demi gigitan saya lahap dengan suka cita, sampai ketika sebuah Whatsapp tiba. Saya lupa kalau saya dan D sudah janji untuk mencicipi varian menu di salah satu café yang terletak di kawasan wisata Kota Tua. Berhubung saya penganut “Berhenti Makan Sebelum Kenyang”, jadilah D mengunyah nasi campur yang berada di seberang Stasiun Kota seorang diri. Yup! Dia emang anaknya setabah itu hahahaha. Usai makan, kami berjalan menyusuri Kota Tua. FYI, minggu lalu saya dan D juga kesini. Ketika itu, saya baru kali pertama menginjakkan kaki ke lokasi ini. Enggak banyak tempat yang berhasil terekspose karena saya sudah terlalu lelah untuk keliling setelah mengunjungi Museum Bank Mandiri sebelumnya.

 

J
Sisi samping Museum Bank Mandiri

ZC
Seberang Stasiun Kota. Di jalan ini, ada sekitar tiga penjual nasi campur emperan tanpa gerobak. Rasanya? Juara!

 

Sementara yang kedua kalinya, lagi-lagi saya mengintip dari bilik jendela si Café Batavia (café yang seharusnya saya datangi untuk menikmati menu makan siang, red). Jadilah kami berkeliling dan diakhiri dengan menyambangi Museum Seni dan Keramik. Biaya tiket yang perlu dibayar adalah Rp 5.000 per orang.

 

W
Penampakan depan Museum Seni dan Keramik

 

ZA
Ada biskop mini

 

ZB
Keramik Cina, Dinasti Yuan abad ke 13-14. Serta, Dinasti Ming abad ke 15-17

 

Y
Caption tertera pada tulisan dalam gambar 😀

 

X

 

Z
Surga karena banyak gambar :’)

 

Entahlah, kenapa saya menjadi turis dadakan yang selalu ingin ke Museum. Mungkin karena di Makassar belum terlalu banyak Museum atau masa kecil saya yang kurang kunjungan wisata?

 

Q
Pengunjung

 

V
Mendung. Museum Fatahillah

R
Salah satu penyewaan yang paling banyak dijajakan.

 

U
Batavia Market

 

T
Yang dinantikan, museum wayang 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s