Temperamen

“Loe aja deh yang bales. Males gue!”

Temperamen /n sifat batin yang tetap mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran. Ya… begitulah sekiranya arti yang saya dapat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Naik-turunnya temperamen saya bukan lagi karena mendekati waktu Premenstrual Syndrome (PMS). Hal-hal sepeleh kerap memancing amarah saya. Semisal pensil warna dan kuas cat air berada di satu wadah yang sama, barang-barang saya yang digunakan tanpa izin, jam ngaret, oknum-oknum pemberi harapan palsu (PHP), dan orang-orang yang selalu menyuruh saya bersabar hahahaha. Untuk kategori terakhir, tergantung situasi karena tidak semua orang yang mengaku “tahu” kondisi yang terjadi adalah yang benar-benar peduli. Bisa jadi, mereka hanya ingin menenangkan diri agar terhindar dari lontaran kalimat cacian yang diperdebatkan. Menurut saya, kalau sabar memang tanpa batas kenapa ada emosi sebagai sekat?

Sentimental ini, entah karena apa penyebabnya, saya lebih suka menyebutnya “melenceng”. Saya tipekal orang yang suka mengatur apapun, termasuk waktu. Jadi, emosional saya akan naik secara alamiah kalau ada hal yang tidak sesuai dengan waktunya a.k.a melenceng. Bukan cuma itu aja sih, makhluk bernama manusia juga bisa membuat saya berubah menjadi sosok jahat. Ada beberapa karakter orang yang akan langsung saya sinisi ketika kali pertama bertemu. Biasanya, saya akan sedikit “jaga jarak” dengan orang tersebut. Judgemental? Enggak! Tapi, lebih mencari titik aman dari sejumlah orang yang memiliki sifat bertolak belakang dengan saya. Sekarang saya paham kenapa akhirnya banyak orang yang melabeli saya arogan. Setelah berkali-kali saya ditegur, ”senyum dikit apa! Ketus banget jadi cewek!” atau, “ngeliatin orang biasa aja kali, Ray!”, atau, “kalau orang nanya tuh jawabnya ramah. Ditanya juga jawabnya seadanya banget!”.

 

17-11-10-22-50-29-117_deco

 

Kadang saya mikir “apa iya saya seantagonis itu?” atau, “masa iya saya jahat begitu?”.  Mungkin ada yang perlu diluruskan kalau kalian baca ini (yakali dah yang baca banyak banget, palingan itu-itu doang! hahah). Di dunia ini segala sesuatunya terbagi atas dua, seperti wanita-pria, muda-kaya, lapang-sempit, pintar-bodoh, tinggi-pendek, mahal-murah, dll. Satu diantaranya ialah baik-jahat. Pernah enggak kalian secara enggak sengaja mencibir perilaku atau penampilan orang lain di tempat umum? Jawabannya, iya! Orang lain yang belum tentu kamu kenal aja berhasil mendapat reputasi jelek, apa kabarnya dengan orang terdekat yang sudah kamu ketahui sifat aslinya dengan baik?

Beruntungnya, saya tahu dengan benar perbedaan antara emosi dan marah. Kalau kalian pernah sekali atau sekian kali mendengarkan saya berkata kasar, itulah marahnya saya. Beda emosi dimana hampir semua ucapan yang keluar berupa keluhan, protes, dan cibiran. Makanya, saya acap kali meminta bantuan teman untuk menanggapi si “pelaku” pemancing emosi kalau emosional saya bakalan kumat. Atau, saya memilih untuk mendiamkannya. Predikat “kurang baik” yang biasa kalian berikan kepada saya, beginilah penjelasannya. Pun, jika kurang suka, saya tidak bertanggung jawab atas perasaan dengki yang kalian nobatkan kepada saya. Juga, hal itu adalah hak kalian. Ketahuilah, saya tidak pernah mati-matian untuk bersikap manis di depan orang atau berpura-pura baik agar disukai sejumlah kalangan. Penting bagi saya untuk menyukai diri saya sendiri. Bukannya saya tidak menghiraukan sekitar, justru saya tengah belajar untuk peduli dengan cara tidak memusingkan kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s