Millennial

“Blogger?”

“UI Design?”

 

 

Rasanya aneh menjadi consumer pertama ketika tepat pukul 10.00 WITA saya merapat ke salah satu perusahaan kedai kopi terbesar di dunia dengan logo khas wanita didominasi warna hijau itu. Usai memesan Green Tea bersama Whipped Cream, saya memilih kursi dipojokan dengan dua bangku dan satu meja kayu. Disana tersedia colokan sebagai penyambung nyawa laptop saya yang setia setiap saat (duileh, Rexona kali ah). Buru-buru saya membuka email, lalu mengirim deadline konten – padahal hari ini tanggal merah – yang seharusnya dikumpul Jumat siang. Sembari menunggu beberapa attachment terupload sempurna, saya membuka tab baru untuk melirik Instagram. Sudah empat hari terakhir saya mengaktifkan kembali jenis akun sosial media itu. Hanya karena masalah sepeleh, menghubungi salah seorang teman via Direct Message (DM). Iya! Komunikasi semakin mudah, tapi empati semakin musnah (lah?).

Membahas soal DM, beberapa hari terakhir saya mendapat pertanyaan dari dua atau tiga orang pengguna Instagram. Secara garis besar, pertanyaan mereka hampir sama.

“Kerja apa?”, tanya A

“Blogger?”, tanya B

“Design visual yaa, Mbak?” tanya C

 

Saya menyipitkan mata. Dua pertanyaan terakhir saya balas dengan jawaban yang sama “bukan”. Iya! Sesederhana itu respon saya hahahahaha. Kami baru saling mengikuti satu sama lain pada aplikasi rancangan Kevin Systrom dan Mike Krieger itu sekitar dua hari belakangan. Setelah saling melempar tanya-jawab, saya dapat menyimpulkan bahwa image kalian ditentukan dari apa yang kalian berikan pada dunia maya. Jadi, kalau misalnya foto atau video yang sering kalian upload mayoritas berisi kegiatan traveling, mungkin pengikut kalian akan mengira anda pelancong sejati. Sama halnya, jika varian makanan atau minuman mendominasi hasil jepretan kalian, mungkin mereka akan mengira kalian seorang food enthusiast. Terus, banyaknya foto #OOTD bisa menandakan kalau kalian adalah fashion designer atau pecinta fashion atau selebgram yang lagi ngendorse (?). Terkadang, saya ngerasa kalau Netizen adalah Raja di Dunia Maya, mereka berkuasa. Kok bisa? Boleh mungkin di cek akun Instagram saya @rayamitha. Sekiranya, apa yang langsung anda pikirkan tentang saya? Melihat feed Instagram yang begitu suram karena filternya, sebagian foto yang wajahnya sengaja saya crop, sejumlah objek tidak bernyawa dengan cara pengambilan gambar yang saya atur sedemikian rupa? Wajar sih kalau pada akhirnya muncul penilaian seperti itu.

 

a
@rayamitha

Jujur, saya pribadi senang aja kalau dikira fotografer, atau design visual a.k.a UI design hahaha. Oiya, saya ingat pernah dikira perancang startup sama Mas-mas salah satu gerai fast food yang juga memiliki kafe di lantai dua yang terletak di Jalan A.P Pettarani. Waktu itu, jam 09.00 WITA saya memesan cokelat panas, duduk serius, lalu memasangkan USB Hardisk dan USB handphone agar terhubung dengan laptop. Mungkin, masnya ngira dengan segala keribetan kabel itu, saya tengah bergelut dengan data, atau coding, atau meninjau grafik SEO. Padahal saya sibuk menerjemahkan jurnal bahasa inggris dan menelaah bahan bacaan lain sebagai referensi tugas akhir kuliah saya hahaha. Mungkin penampilan saya yang berpakaian bebas sambil nenteng laptop ketika itu layaknya pekerja dibidang startup pada umumnya. Padahal mah, ngerti coding aja kagak! Hahaha.

Lanjut lagi membahas kerjaan. Entah berapa banyak manusia yang salah kaprah mengenai mata pencaharian saya. Marah? Enggak lah! Saya hanya bisa meng-Amin-kan. Saya pribadi memang tertarik bekerja dibidang kreatif jenis apapun. Salah satunya media. Selain karena bebas mengenakan pakaian apapun asal sopan, saya juga bebas berkreasi melakukan apapun, memikirkan apapun, dan mengerjakan dengan cara apapun sesuai dengan rules yang ada. Terlebih, bekerja dengan siapapun. Wah… yang ini jadi nilai plus, dimana networking semakin luas. Terkadang, pekerjaan semacam ini seringkali dianggap, “widih, kerjaan impian anak millennial banget!”. Saya bingung sendiri, maksud  ente afe?.

Selidik demi selidik, setelah berbincang ngalor-ngidul via DM sama beberapa teman di Jakarta dan Bandung ternyata generasi penerus bangsa memang tengah mengembangkan sayap di industri kreatif. Kebetulan, teman saya berprofesi sebagai seorang Copywriter di salah satu perusahaan e-commerce di Jakarta. Rata-rata, pelamar kerja berusia 21-25 tahun mengincar posisi yang sama dengan teman saya. Alasannya, mereka menyukai dunia kreatif ditambah salary yang mumpuni. Saya aja tergiur pas tahu gaji yang diterima per bulan adalah dua bahkan tiga kali gaji per bulan saya kerja di Makassar. Nahas! Pun, yang terjadi dengan rekan saya di Bandung. Dia seorang videographer, sudah enam tahun terakhir bergerak di bidang perfilman. Katanya, pelamar kerja yang ingin menjajal dunia UI atau UX Design sangat banyak. Termasuk, di perusahannya sekarang. Tapi, niat sebatas niat, sebab mereka tidak memiliki skill sama sekali terkait posisi yang mereka incar.

Terakhir, saya sempat membahas masalah pekerjaan dengan salah seorang sohib, Kia. Mulai dari dilematis antara menerima atau menolak pekerjaan di Ibukota, sampai “mewabahnya” Entreprenuer dan Make Up Artist di belahan Kota atau Kabupaten. Saya mikirnya gini, daripada kerja sama orang lain yang ujung-ujungnya berstatus karyawan, kebanyakan makan hati, kerja hanya mengharapkan gaji tapi enggak pakai nurani, lebih baik buka usaha sendiri. Jadi bos sendiri dengan memanage apapun secara mandiri. Meskipun untung belum terlihat, setidaknya mereka enggak jadi sampah masyarakat. Saya pun pernah begitu! Pontang-panting bawa kain sendiri, keliling cari vendor penjahit sendiri, ukur pakaian konsumen sendiri, ikut event bazaar sendiri, jadi tukang bedah kios sendiri. Pernah juga rugi materi, modal lama kembali, tapi lama-kelamaan happy. Sayangnya, saya pernah mengalami kekecewaan yang mendalam dengan partner penjahit saya. Makanya, sampai sekarang belum sepenuhnya percaya dengan rekan bisnis manapun.

Intinya, pekerjaan tidak pernah mengikuti zaman. Jauh sebelum Internet berkembang seperti sekarang, banyak kok penulis, pengusaha, penggiat kreatif, dan pekerjaan lainnya. Tapi, manusia berinovasi. Wadah menulis mereka bertambah sehingga bisa melalui blog, dsb. Juga, pengusaha yang memiliki cara memasarkan produk agar lebih mendunia dengan berdagang lewat situs jual-beli online. Pun, penggiat kreatif dengan ide mereka yang orisinil! Profesi itu bukan trend pakaian yang mengikuti selera pasar. Bukan sekedar mengikuti apa yang tengah digandrungi khalayak ramai. Profesi itu jati diri.

 

*btw saya publishnya agak malam, karena nulisnya nyambi kerjain hal lain. Sekarang, lagi nunggu Bus pula hahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s