GANJIL

“Desemberku ganjil, meski genap setahun”

 

 

images
Credit photo: http://ex-place.blogspot.co.id

Hujan yang mengguyur sedari kemarin malam, agaknya membuat saya terbujuk rayuan kasur untuk terus bersamanya. Rintik air jatuh saat weekend memang tidak pernah salah. Lantunan sejumlah lagu sendu terputar acak dari iPod hitam yang sengaja dibiarkan tergeletak tepat sebelah saya. Semisal Pink dengan I Don’t Believe You, Notice Me milik David Archuleta, One-nya Ed Sheeran, Imaginary Future ft Kinna Garnnis berjudul April, Lady Antebellum – Hurt, dan deretan lagu galau lainnya. Btw, post kali ini emang agak sedikit curhat colongan. Harap maklum, berhubung yang punya blog moodnya lagi porak-poranda. Silahkan di skip gengs atau klik tanda “X” kalo males baca 😀

Kehancuran ini (halaaaaah… bahasanya kehancuran), yaa maksudnya pikiran yang carut marut ini  dilatarbelakangi oleh kejadian yang seharusnya enggak pernah terjadi sejak setahun silam. Tepatnya, 10 Desember dimana bencana silih berganti berdatangan. Pernah ngebayangin saya yang anaknya emosional luar biasa, enggak sabaran, suka atur ini-itu tetiba lebih pilih pasrah dan menjadi makhluk yang teramat sangat sabar ketika berhadapan dengan sosok laki-laki yang saya juga enggak tahu kenapa bisa jadi pacar saya? Pernah ngebayangin saya yang anaknya enggak peduli dengan omongan orang tentang penampilan, tetiba jadi low self-esteem ketika berpapasan dengan teman-temannya pacar saya sendiri? Pernah ngebayangin saya yang anaknya bawel bukan main dan suka sok kenal sok deket a.k.a SKSD kalau kali pertama ketemu sama orang baru, tetiba lebih pilih diam ketika bertemu lingkungan pergaulan pacar saya sendiri?

Iya, gengs! Kehidupan saya langsung berubah 360 derajat luar biasa sampe binasa. Saya yang anaknya selow mau temanan sama siapa aja, makan dimana saja, cerita apa saja, ketawa sampe ngakak jumpalitan kudu disetting dulu kalau bersama pacar saya. Seolah, sikap saya ini perlu dikondisikan ketika jalan sama dia. Saya sepalsu dan semiris itu! Kadang sih mikir mau berapa lama saya bertahan seperti ini? Sampai suatu ketika saya capek sendiri. Mulai dari komunikasi setiap hari, dua hari sekali, tiga hari sekali, seminggu sekali, sampai akhirnya sebulan sekali. Mulai dari ketemuan setiap hari, tiga hari sekali, seminggu sekali, sampai pada akhirnya putus pun saya enggak pernah ketemuan sama dia. Saya pernah sepositif thinking itu sama dia, mengklaim kalau sibuknya dia adalah sibuk yang baik. Dan, sebaik itu juga dia menyakiti saya pelan-pelan. Sama dia saya belajar banyak hal, belajar lebih mendahulukan keluarga dan teman, sehingga waktunya lebih banyak untuk mereka ketimbang saya. Belajar mengutamakan rencana jangka panjang, sehingga waktunya lebih banyak untuk hal-hal yang telah diprioritaskan tidak termasuk saya.

Jujur, saya bisa semandiri ini pun berkat dia. Enggak pernah sekalipun saya minta bantuan sama dia meskipun saya tahu kapasitasnya sangat menyanggupi hal itu. Enggak pernah sekalipun saya mau nyusahin dia meskipun saya tahu waktu senggangnya kala itu. Karena saya tahu, saya enggak sepenting itu. Enggak pernah sekalipun saya ngarep bisa leyeh leyeh manja sama dia. Pun, ketika saya “bertamu” di UGD dulu, jangankan jenguk, nelepon juga enggak! Kesibukannya yang parah, ditambah meeting dengan kawanan koleganya sudah jadi perihal yang biasa untuk saya ahahahahaha. Bagi perempuan bermental tempe, pasti enggak akan bertahan lama sama “makhluk” setidakpeka itu. Sering saya dikomentari, “putusin aja sih punya cowok juga jalannya tetep sendirian”, atau “betah banget pacaran sama cowok begitu?”, atau “kenapa enggak putus aja sih? Pacar juga enggak ada faedahnya. Enggak pernah bantu apa-apa”. Sampai akhirnya saya nyerah juga.

Tapi, ada yang mengganjal dari bulan yang jatuh pada 31. Desember saya ganjil, meskipun setahun saya genap. Saya pernah berhasil melepaskannya tapi enggak bertahan lama. Sekali lagi, saya coba relakan dia, eh.. dianya kembali. Baginya, saya lebih tepatnya kita, sudah ada lama. Saya sempat menggelengkan kepala, menolak dengan keras. Bodohnya, saya lupa kalau saya selalu jadi pribadi yang berlawanan dengan diri sendiri ketika berhadapan dengan dia. Emosionalnya saya yang berubah jadi sabar, bawelnya saya yang berubah jadi diam, dan kerasnya saya yang berubah jadi lunak.

Semoga saya bisa berdamai dengan kenyataan dan menutup telinga untuk berbagai cibiran. Iya! Hanya sebagian orang aja yang paham kalimat barusan. Karena, menjadikan kita itu tidak sederhana. Selamat setahun!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s