Sedikit Lagi, Sabar

Kalau pun saya gagal lagi, saya mau itu karena kesalahan saya sendiri”.

 


 

Entah kesambet setan apa, usai lari pagi saya menelpon Bapak. Memberanikan diri untuk bicara serius mengenai keinginan saya yang sebenarnya. Setelah sebelumnya, saya bicara membahas hal yang sama dengan Mama. Kurang lebih 15 menit saya mengutarakan unek-unek yang terpendam pasca saya menyelesaikan kewajiban mengenyam pendidikan . Sampai akhirnya terlontar kalimat,“kalau emang kamu maunya itu, Bapak dukung dan doakan. Kemarin Bapak hanya kasih kamu pilihan, takutnya kamu belum ada rencana apapun. Kamu kan sudah besar, sudah sering keluar-masuk perusahaan, sudah tahu susahnya cari uang, sudah tahu hal apa saja harus kamu prioritaskan dan korbankan. Kamu anak Bapak, kalaupun kamu gagal kamu enggak akan dicoret dari kartu keluarga”. Iya! Bapak saya emang suka ngelawak kalau lagi serius-seriusnya ngasih nasihat. Jadi, buat yang nanya kenapa saya anaknya susah khusyuk kalau lagi bahas yang berat-berat, yaa.. harap maklum gen dari Bapak saya ngalir soalnya hahahaha.

 

Kemauan saya sebenarnya banyak dan orang tua saya mengabulkannya. Salah satunya, fokus mendirikan usaha. Syukurnya, saya dengan orang tua memang selalu mengutamakan kenyamanan. Kalau enggak nyaman, bilang. Kalau enggak suka, tolak. Kalau enggak mampu, jangan dipaksa. Yang terpenting bagi mereka, usaha usaha usaha. Kalau prosesnya sulit, barengi dengan doa. Kalau hasilnya belum kelihatan, yaa sabar. Kadang ketika saya merasa sangat capek, selalu ngeluh, nangis sampai rasanya kepengen nikah aja (padahal nikah juga enggak menyelesaikan masalah :D), saya mencoba menguatkan diri sendiri dengan berkata dalam hati , “sedikit lagi, sabar”. Kalimat itu semacam penenang bagi saya.

 

Pernah, suatu waktu ketika saya marah atas diri saya sendiri, saya merasa Allah enggak pernah berpihak dengan saya. Bahkan, saya sampai tega meninggalkan kewajiban saya sebagai seorang muslim. Kalau ingat ini, saya merasa kok saya bisa sejahat itu? Bahkan, semakin saya ditimpa masalah semakin naik darah. Hingga tepatnya subuh itu, beberapa jam sebelum perlehatan wisuda, Bapak mengetuk pintu kamar saya. Lalu berkata, ”anak bungsu Bapak sudah besar. Sudah selesai S2, sebentar lagi diambil orang. Asal bukan orang-orangan sawah”. Saya yang setengah sadar, ingat jelas wajah Bapak dengan senyum lebarnya. Duh, Bapak ini sempetnya bikin ngakak. Betapa bahagianya saya punya Bapak seperti ini. Meskipun saya sekeluarga beda rumah dan beda kota, tapi alhamdulillah kami masih sama-sama. Yang bikin saya sadar adalah, ketika secara tidak sengaja saya menabrak kendaraan yang letaknya pas dibelakang. Penyebabnya, selain saya yang sedikit kikuk karena sudah jarang membawa kendaraan, juga kondisi parkiran saat perlehatan wisuda yang terbilang padat (ini yang paling menjengkelkan huh!). Sementara saya berjuang untuk mendapatkan parkiran sembari mendengarkan celotehan Mama dari bangku belakang. Dari balik spion mobil, Bapak senyum lalu berkata, “ayolah berjuang! Sia-sia Bapak ngajarin kamu bawa mobil kalau parkir mundur aja enggak pernah bisa. Makanya berjuang itu jangan sendirian, ada Allah kenapa enggak pake doa? Ampuh itu!” Jder!!!! Kalimat Bapak saya yang itu berhasil bikin saya berpikir keras. Dari kemarin saya kemana aja? Saya seolah merasa yang paling benar, paling hebat, dan paling bisa melakukan segalanya sendiri. Lah? Wong saya selama ini juga dibantu Allah, entah itu karena doa-doa saya atau berkat doa orang lain dan keluarga.

 

Kadang, manusia emang gitu. Merasa kalau semua yang dilakukannya sia-sia dan berada di kasta paling bawah. Apalagi, di usia seperti saya. Melihat kanan-kiri sudah menikah, mempunyai turunan, memiliki pekerjaan tetap pasti timbul iri hati hahaha. Kodratnya, manusia memang tidak pernah puas. Supaya puas, biasanya saya tulis jurnal setiap pagi. Saya menuliskan beberapa hal yang patut saya syukuri, yang patut saya banggakan dari diri saya sendiri. Pun, seperti ketika saya jerawatan sekarang saya merasa bersyukur. Saya mencoba mengubah cara pandang saya, lebih baik jerawatan sekarang daripada dua atau tiga tahun kemudian ketika mungkin saya sudah memiliki anak, sibuk urus suami, dan tidak mempunyai waktu untuk treatment di dokter kulit.

 


jurnal pribadi yang dicampur agenda meeting hahaha

 


Setiap manusia punya batasan waktu, jadi tenang aja. Bisa jadi, saat ini kamu lagi menghabiskan semua batasan waktu kegagalan kamu sebelum menuju waktu suksesmu. Karena  kegagalan sebenarnya adalah akumulasi dari rasa khawatir dan ketidaksabaran melihat hasil. Sabar aja, ingat, “sedikit lagi, sabar!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s