No Posts Yet

“Loe kenapa lagi? Instagram fotonya kosong gitu? Dihack lagi?”

Processed with VSCO with m5 preset

Suatu waktu, ketika saya baru saja mengunggah Instastory di akun Instagram saya salah seorang teman – yang saya ingat saya enggak pernah memfollow dia – mengirimkan Direct Message. Isinya kira-kira seperti ini:

“Foto cuma 55 tapi followes ribuan, dihapusin yaa, Mbak?”

Saya mengernyitkan dahi, membuka profile si pemilik akun. Ia adalah seorang laki-laki. Mungkin pekerjaannya fotografer atau yang bergerak dibidang industri kreatif, karena sepanjang yang saya lihat, mayoritas fotonya berfilter black and white khas pembidik handal. Pengambilan gambarnya pun terbilang berkualitas. Ditambah, dua dari sekian banyak fotonya menggambarkan betapa sibuknya dia dengan dua komputer yang menampilkan semacam software edit video di layar LCD. Saya coba melacak mutual friends untuk mengetahui silsilah pertemanan hingga ia kenal saya. Yup! Tujuh dari followers saya pun berteman dengannya.

“Mohon maaf, Masnya punya attitude?” balas saya.

Saya emang seketus itu. Maapkeun. Saya sudah sangat risih dengan berbagai bala gangguan yang silih berganti menghampiri melalui akun Instagram. Segala cara pernah saya coba, mulai dari mengunci akun, mengaktifkan Turn Off Commenting pada setiap foto yang saya posting, menonaktifkan komen pada fitur Instastory, sampai akhirnya akun saya di hack. Sesekali saya mendapati Direct Message yang sedikit menganggu, termasuk kali ini.

“Maksudnya? Saya cuma nanya aja lho, Mbak. Saya juga enggak paham isi foto Mbak, kebanyakan tanpa kepala”.

Permisi, ini akun kan punya aing. Kenapa situ yang atur yaaa? Sungguh, Maha benar warganet dengan segala komentarnya. Serius, saya anaknya males ribut. Saya bukan tipekal orang yang hobi cekcok karena perkara sepeleh. Apalagi, menyangkut hal pribadi yang tidak butuh diskusi sama sekali. Jadilah, saya hanya melihat deretan kalimat tersebut. Tak lama berselang, saya mendapati Direct Message dari oknum yang sama.

“Mbak, suka kopi juga yaa? Sebelum kerja emang paling enak nyeduh kopi”.

PicsArt_01-28-05.09.35

Asli! Annoying sekali anda! Beberapa menit lalu, saya memang mengunggah sebuah foto di Instastory, dimana tangan kiri saya sedang memegang paper cup coffee yang baru saja saya beli di salah satu coffeeshop dekat kantor. Ya! Isi Direct Messagenya kali ini “seolah” mengomentari foto itu. Mood saya langsung amburadul. Tolong dong Masnya, kalau sempet baca postingan blog ini agaknya merasa dikit. Selang empat hari setelah moment “kopi” itu. Saya mengunggah foto di akun Instagram saya. Beberapa jam kemudian, saya mendapat Direct Message dari si Masnya yang selalu benar.

“Andalan banget yaa Mbak, kepalanya selalu hilang.”

Processed with VSCO with  preset

TUH! Tuh, doi lagi ngomentarin foto gue yang baru banget gue upload. Sembari istighfar, tangan kanan sengaja saya sibukkan dengan cemilan yang baru saya beli di Supermarket tadi. Supaya apa? Supaya enggak tergoda membalas Direct Message yang dapat memicu perkelahian kosakata. Keputusan saya pun bulat untuk mengarsipkan semua foto di Instagram. Jadi, hanya saya sang pemilik akun yang dapat melihatnya. Mungkin, sebagian teman beranggapan saya sok inilah, sok itulah, de el el. Ketahuilah, dibalik semua postingan foto kamu, betapa banyaknya mulut netizen yang mencibir dalam hati. Bukan sekali, dua kali saya dibilang “sok” oleh sejumah teman karena pernah tiba-tiba menonaktifkan akun media sosial. Seandainya, hal ini pun terjadi sama kamu, saya enggak yakin kamu bisa sebijak saya untuk memilih diam dan mundur dari hingar bingar penilaian netizen. Banyak, diluar sana yang justru meluapkan emosinya lewat sosial media. Berkata cenderung menyudutkan, seolah cara itu adalah solusi ampuh untuk mencolek si biang masalah. Padahal, yaa gag gitu juga!

Banyak pihak yang secara enggak sadar memberikan anggapan terhadap sebuah postingan akun milik orang lain. Sayapun demikian, kadang nyinyir, kadang ketawa, dan kadang mikir mereka ini kenapa yaa hal pribadi semacam isi chattingan sama pacar yang sedikit berbau vulgar diposting di media sosial? Tapi, hanya sebatas itu. Sebenarnya, mirip-mirip kayak ngomongin orang dari belakang. Cuma, yaaa saya beranggapan jauh lebih penting menjaga perasaan milik orang lain. Saya enggak sefrontal Masnya yang selalu benar, yang berani ngomong blak-blakan tanpa penyaring. Semoga, jumlah makhluk seperti Masnya yang selalu benar tidak banyak dan tidak akan pernah dibudidayakan. Karena, hal ini bukan kali pertama saya alami. Pernah, beberapa kali sampe saya sensi sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s