As a Blogger

“Satu kali ngepost bisa tiga kali gaji aing itu mah”

 

Kemarin, Jumat siang, saya bertemu salah seorang teman. Sebut saja dia H. Kami dipertemukan di sebuah kursus Bahasa Inggris, IEC cabang Pasar Minggu. Waktu itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas dua. Dimana, sepulang sekolah saya memilih untuk langsung ke tempat kursus dengan aroma khas debu, ditambah asap jalan raya yang bersatu dengan bau matahari, dan diremix dengan cologne dari Pucelle. Hal itu selalu saya lakukan setiap Senin-Kamis. Sebelum jam masuk kelas, biasanya saya selalu bertemu H di kantin entah mengerjakan pekerjaan rumah bersama atau sekedar cerita cinta monyet ala putih-biru. Kebiasaan kami untuk bertemu satu sama lain berkurang, mulai dari saya pindah tempat kursus ke LBBP LIA sampai pindah ke Makassar. Untungnya, komunikasi kami masih lancar berkat Friendster yang booming kala itu. Kebayang, betapa alaynya saya ketika membalas semua komen di wall menggunakan font berglitter warna-warni hahahaha. Ringkas cerita, kami berteman di Facebook. Dan, sesekali jumpa temu kalau saya tengah berada di Ibukota.

Ini, adalah kali kedua saya bertemu H sebagai seorang blogger. November lalu adalah jadwal sua pertama. Saya sempet bingung waktu H mengagendakan Selasa sebagai hari meetup kami. Plus, jam 1 siang pula. “Ini anak gag kerja apa?”, pikir saya. Kami bertemu di salah satu café bilangan Central Park. Setelah 30 menit lebih saya menunggu, H datang dengan segudang barang bawaan. Sebenarnya, ini mirip saya juga sih nenteng-nenteng laptop dan pakai totebag berukuran besar. Dari sini saya sadar, kalau bukan cuma beban hidup aja yang berat. Beban benda yang diangkut dalam tas juga berat. LOL. Usut punya usut, ternyata H abis meeting dengan client. Nah, saat itulah terungkap kalau pekerjaannya selama lebih dari dua tahun terakhir adalah blogger.

00aca8ac8808168d53fe2725f686c59d

 

Mulanya sih, dia seperti fresh graduate kebanyakan yang beratus kali mengirim lamaran kerja via email, website, maupun mengirimkan langsung ke alamat perusahaan. Selama delapan bulan dilaluinya dengan pelbagai tes mulai dari tes wawancara, psikotest, tes wawancara user, dan berakhir dengan tanpa kabar a.k.a gag lulus. Putus asa? Pastilah! Bahkan, H pernah sampai menutup diri dari teman dan keluarganya karena malu dengan status pengangguran yang melekat di dirinya.

“Enggak kerja, berarti enggak ada pemasukan. Enggak ada pemasukan, berarti enggak belanja. Enggak belanja? Enggak bisa gue!”

 

Kalimat tersebut yang membuat H akhirnya getol ikut lomba nulis dan foto. Beruntungnya, ia kuliah di jurusan Public Relation di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) kenamaan di wilayah Jakarta Pusat. Enggak keitung deh, berapa banyak wanita bening dan selebgram yang berasal dari kampus itu. Sekali, dua kali, sampai kelima kalinya barulah si H berhasil menyabet juara tiga kontes foto. Dari situ, ia memenuhi kehidupannya dengan mengikuti segala jenis kompetisi. Sampai yaaa… berhasil kayak gini. Menurut aing sih sakses, secara dari menang lomba cuma dapat hadiah menarik, uang tunai rautsan ribu, sampai doi berhasil mengumpulkan pundi-pundi bernilai tiga bulan gaji saya untuk satu kali postingan di blog pribadi miliknya. Wow! Takjub! Maaf, saya norak :p

Keingintahuan saya semakin besar mengenai fee yang ia dapatkan. Enggak heran, kalau pas kemarin ketemuan saya melontarkan berbagai jenis pertanyaan, semisal susah-senangnya bekerja sebagai blogger, cara dia mengatur waktu, berapa jam yang ia habiskan untuk menulis sebuah postingan per hari, gimana cara memastikan klien kalau dia adalah blogger yang pantas dikontrak sebagai seorang influencer, sampai berapa banyak fee yang diberikan. Inilah alasan, kenapa sedari awal saya hanya menulis inisial huruf awal nama asli a.k.a nama panjangnya di blog ini, bukan nama akun Instagram atau blog miliknya. Hasilnya, betapa hasil jerih payah seorang blogger enggak bisa kalian sepelehkan. Untuk satu foto produk saja, ia harus berkali-kali membidik dengan jelas, penuh estetika, dan “nampak” Instagramble. Ditambah, “kewajibannya” menjajal produk tersebut agar mengetahui bahan, tekstur, keuntungan, dan kerugian saat menggunakannya. Biasanya, ia menghabiskan waktu satu sampai dua minggu untuk benar-benar merasakaan hasil dari produk itu. Jadi, apa yang ia tulis adalah apa yang ia alami selama proses pemakaian sebuah produk (no tipu-tipu, red).

 

giphy

Karena memakan waktu yang cukup lama untuk sebuah postingan, biasanya si H tidak terlalu banyak mengambil pekerjaan. Dalam sebulan, hanya 2-4 postingan saja yang diterima. Jumlah tersebut, tidak termasuk jadwal launching produk dan beberapa event lainnya. Pun, dengan jumlah endorsement via Instagram dan Instastory yang biasa diambilnya. Metode pembayarannya juga berbeda, ada yang berupa barang dan uang tunai. Kisaran harga yang diberikan pun bermacam-macam, tergantung brand dan jenis media sosial yang dipilih. Paling murah ialah Instastory yaitu Rp 100 – 250 rb untuk satu sekali upload. Kok bisa? Alasannya, jumlah followersnya hanya 32K, apa kabar aing yang cuma 1000an doang? Berbeda dengan paid promote foto via Instagram, dipatok dengan harga ratusan ribu hingga jutaan. Tungitung, berapa kah pendapatan H per bulan? Nampak jelas dari ujung kaki hingga ujung rambut, bahwasanya semua yang dikenakan dan digunakan merupakan barang branded. Tetiba saya drop sesaat hahahaha.

 

giphy (1)

Akhirnya sih aing paham, kenapa banyak generasi millennial yang memutuskan untuk menjadi blogger, vlogger, beauty enthusiast, fashion enthusiast, de el el. Karena yang dilihat adalah betapa “bahagia” nya para influencer di media sosial yang selalu mendapat barang gratisan dan dibayar pula. Wahai adik-adik, ketahuilah dibalik itu semua ada hal yang harus dipertanggung jawabkan, seperti grafik viewers postingan blog dan “seracun” apa kamu hingga bisa mempengaruhi orang lain. Apalagi, betapa riweuhnya aktifitas “dibalik layar” sebuah foto dan karya tulis. Dimana kamu harus memiliki pengetahuan fotografi yang mumpuni, skill editing photo, pembendaharaan kosakata yang baik dan mudah dicerna, dsb. Tapi, yaa… balik ke diri sendiri lagi sih. Kalau emang merasa sanggup dan sesuai passion, kenapa enggak dicoba?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s