Hubungan

“Hubungan ini enggak akan pernah berhasil. Enggak akan!”

 

Apa yang lebih nyaman dari menyeduh hot chocolate berukuran large dengan sepotong donat saat hujan? Apalagi, ditemani seorang sahabat yang senasib sepenanggungan. Sebut enggak nih namanya? Sebuuuuuut! Hahaha, Fhera. Maapin aing ceu. Malam itu kami janji temu selepas pulang kerja. Selain porsi makan kami yang terbilang banyak, porsi curhat kami pun sama. Lebih tepatnya sih saya yaah. Maklum, otak dan hati saya mulai enggak sinkron. Pikiran dan perasaan saya terbentur realita.

 

Processed with VSCO with c1 preset

Saya tipekal manusia emosional dengan slogan, ”gue liatin dulu”. Maksudnya gini, kalau ada orang yang kurang saya suka, saya memilih memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Kalau “bukti” saya sudah kuat, barulah saya membeberkan fakta A-Z ke oknumnya langsung. Seperti kejadian dua hari lalu. Amarah saya memuncak luar biasa. Pernah ngebayangin punya pacar yang …., ah! Udah lah, saya speechless sendiri. Dari awal hubungan ini terjalin, saya sudah merasa gagal. Apa yang salah? Visi dan misi saya sangat bertolak belakang dengan dia. Cara kami memandang sebuah hubungan sangat kontras. Lalu, poin apa yang kami pertahankan? Kualitas diri kami masing-masing. Dia dengan jabatan, gelar, dan pekerjaannya. Dan saya dengan pola pikir, background pekerjaan, gelar, dan kreatifitas yang saya punya. Inilah cara kami bersikukuh dengan segala omong kosong hubungan tanpa arah ini.

Titik temunya? Gelar kami yang menurutnya membawa martabat di mata masyarakat. Tapi tidak bagi saya! Sepenting apa sih punya gelar? Bullshit buat gelar yang sama sekali enggak bisa ngasih dampak positif ke orang banyak. Lain halnya, dengan jabatan yang ia miliki sangat berhubungan dengan latarbelakang pekerjaan saya sebagai jurnalis. Pun, dengan pekerjaannya yang membutuhkan inovasi. Sesekali saya tuangkan ide saya untuk membantunya. Lantas? Tidak satupun dari poin tersebut yang membuat hubungan kami maju. Layaknya mitra bisnis, dia sebagai klien, saya selaku konsultan. Bukan, seperti Cinta-Rangga, apalagi Milea-Dilan. Jangan mimpi!

Hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Tidak akan! Kami hanya sepasang manusia dengan tujuan berbeda tapi saling membutuhkan. Kami hanya sepasang manusia yang saling mencari tapi tidak saling menemukan. Kami hanya sepasang manusia yang saling menyakiti, menyalahkan dan mancoba benar di mata satu sama lain. Kadang saya mikir, apa yang kurang dari kami. Apa yang membuat hubungan kami teramat tidak wajar? Karena definisi hubungan bagi kami tidak pernah sama. Saya butuh pasangan, sementara dia ingin pendamping. Pendamping dalam arti mendampingi, semacam ajudan yang siap mengawal atasannya.

Saya mentok, sudah sampai ujung. Mau ditelaah bagaimanapun, intinya saya salah. Tapi, dia tidak sepenuhnya benar. Selamat tanggal 13 dimana banyak pihak yang mempercayai bahwa angka tersebut penuh dengan ketidakberuntungan. Seperti, kami dan hubungan ini. Semoga ini benar-benar berakhir. Terakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s