IRONI

“Dan dia duluan yang hubungin gue”

 

IMG_9222

 

Sesabar atau sebodoh apa sebenarnya saya ini sampai bisa dibegoin sama sahabat sendiri? Saya pikir usia bisa mendewasakan seseorang, tapi sebagian pihak terjebak dalam tubuh dan umur yang semakin menua sementara tabiatnya tak berubah. Kemarin, pagi, kehidupan saya masih baik-baik saja. Saya masih dikelilingi orang baik, teman dan sahabat yang saya anggap baik. Sampai akhirnya saya sadar, kalau disekeliling kita banyak orang baik, kemungkinan banyak orang yang enggak baik juga diantara mereka.

Pernah dengar enggak, kalau orang-orang terdekat justru berpeluang paling besar untuk menyakiti atau menghancurkan kita? Saya pernah, dan saya alami itu. Sahabatan dari SMA, sering jalan dan curhat bareng, tapi tiba-tiba hancur karena ada salah satu yang enggak jujur. Seketika langsung mikir, who the hell you are?

Laki-laki yang saya suka selama setahun lebih, laki-laki yang paling sering saya sebut namanya disetiap cerita panjang lebar enggak karuan ke sahabat saya. Laki-laki yang nge-DM saya minta nomor Whatsapp setelah nunggu lebih dari 365 hari kami berteman di sosial media. Pun, laki-laki yang berhasil bikin saya paham, kalau enggak ada seorang pun yang bisa mengubah watak seseorang. Iya, watak sahabat saya. Khilaf? Beda! Kalau sekali atau dua kali berbuat salah mungkin khilaf, tapi berkali-kali buat salah namanya watak, udah bawaan dari sananya.

Berkat statement, “enggak enak nolak” dari sahabat saya, mereka udah saling komunikasi. Lama. Mungkin, selama dua bulan saya vacuum dari Instagram. Atau mungkin juga, karena kebodohan saya sendiri akhirnya mereka sering ketemuan. Sebagai manusia biasa, saat itu saya udah enggak bisa berpikiran jernih. Emosional saya lebih dominan daripada nalar saya. Juga, saya enggak semarah itu. Kenapa? Syukurnya, logika saya masih jalan ketika saya dengan “berbaik hati” menjawab semua pertanyaan laki-laki yang saya gebet 2017 silam. Iya, dia ngaku dengan gamblang kalau dia suka sama sahabat saya. Perasaan saya sakit, tapi otak saya masih waras. Kalau nyaman itu emang enggak bisa dipaksa. Dan, jatuh cinta itu enggak bisa disalahkan. Sedih? Jelas! Kecewa? Pasti! Karena sekalipun saya enggak pernah tahu kalau sahabat saya “berani” nikam saya dari belakang. Juga, dia enggak pernah cerita, karena saya tahu semua kejadian ini dari pihak laki-laki langsung. Nyesel? Enggak dong. Thank God kalau ternyata saya dijauhkan dari orang-orang yang enggak baik buat saya. Tahu, kalau enggak selamanya baik ke semua orang itu akan dibalas dengan kebaikan juga (mungkin bakal dapat dari orang lain?). Ngerti, kalau sebagian orang menutupi kesalahan mereka dengan kata “maaf” tapi tetap mengklaim kalau yang ia lakukan adalah “benar”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s